Rabu, 26 Oktober 2011

Hematopoiesis, Pembentukan Sel Darah

Hematopoiesis merupakan proses pembentukan komponen sel darah, dimana terjadi proliferasi, maturasi dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak.
Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah. Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang berbeda-beda.
Proses yang terjadi bisa lebih jelas dilihat melalui gambar di bawah ini :

Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :
1. Mesoblastik
Dari embrio umur 2 – 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah HbG1, HbG2, dan Hb Portland.
2. Hepatik
Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.
3. Mieloid
Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limfonodi terutama sel-sel limfosit, sedangkan pada timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya adalah asam amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transfusi darah, dan faktor- faktor perangsang hematopoietik.

semoga bermanfaat
Dari berbagai sumber

Gambaran Eritrosit Abnormal

Disini akan sedikit kita bahas beberapa gambaran abnormal dari sel darah merah atau eritrosit yang bisa kita temukan pada saat pemeriksaan hapusan darah.
Hipochrome
Gambaran sel darah merah yang hipokrom dapat ditemukan pada anemia kurang besi (defisiensi fe), sickle cells anemia, thalassemia, atau anemia karena penyakit kronis. Selain dari hapusan, dapat juga kita lihat dari hasil pemeriksaan darah MCH < 26 pg dan MCHC < < 32%
Makrositik
Gambaran makrositik  berarti volume eritrosit lebih besar dari normal. Dapat ditemukan pada penyakit anemia megaloblastik karena kurang vit.B12 atau asam folat, anemia setelah perdarahan akut, atau anemia karena penyakit hati kronik. Dari data pemeriksaan darah ditemukan MCV > 94 fl
Target Cell
Gambaran ini dinamakan sel target karena bentukannya mirip dengan sasaran tembak. Dapat ditemukan pada Thalassemia disertai gambaran aniso-poikilositosis, polikromasi, hipokrom-mikrositik, dan bintik basofil.
Bintik basofil
Poikilositosis
Seperti telah dibahas di atas, dua gambaran ini bisa ditemukan di thalassemia. Selain itu, bintik basofil dapat ditemukan pada anemia sideroblastik dan keracunan timbal. Sedangkan poikilositosis merupakan kondisi kelainan bentuk baik sebagian bentuk dari eritrosit normal atau bentuk yang benar-benar berbeda. Kondisi ini bisa ditemukan pada berbagai kelainan karena tidak spesifik, seperti pada thalassemia, anemia karena defisiensi vitamin B12 atau asam folat, atau bisa juga pada coeliac disease.
Gametosit
Ring Form
Kedua gambaran ini dapat ditemukan pada pasien malaria. Prosedur pemeriksaannya dengan tetes tebal dan tetes tipis. Pada pemeriksaan ini dapat juga ditemukan skizon dan eritrosit yang telah pecah karena hemolisis.
Gambaran yang lain :
Aglutinasi
Akantosit
Sel Sabit
Sferosit
Howell Joly Bodies
Skistosit
Sementara ini dulu..semoga bermanfaat..
dikutip dari berbagai sumber

Gambaran Sel Darah Normal



1. Sel Darah Merah/Eritrosit
  • Ukuran: 6 – 9 mm
  • Bentuk: bulat
  • Warna sitoplasma: merah jambu atau abu-abu
  • Granularitas: tidak ada
  • Distribusi dalam darah: > 90 % dari eritrosit normal dalam darah
2. Keping darah/trombosit
  • Ukuran: 1 – 4 mm
  • Bentuk: bulat atau oval, dengan pinggir tidak teratur
  • Warna sitoplasma: biru
  • Granularitas: granul ungu halus mengisi bagian tengah trombosit Pinggir tipis tanpa granul pada bagian tepi sel
3. Limfosit
  • Ukuran: 10 – 15 mm
  • Bentuk: bulat, kadang-kadang oval
  • Warna sitoplasma: biru
  • Granularitas: tidak ada
  • Bentuk inti: bulat atau agak oval
  • Tipe kromatin: homogen, padat
  • Rasio inti/sitoplasma:  tinggi atau sangat tinggi
  • Nukleolus: tidak terlihat, kadang-kadang hampir tidak terlihat , satu nukleolus kecil
  • Distribusi: darah: 25 – 40 % ; sumsum tulang: 5 – 20 %
4. Netrofil Stab
  • Ukuran sel: 14 – 20 mm
  • Bentuk sel: oval atau bulat
  • Warna sitoplasma: pink
  • Granularitas: a few azurofilik and neutrofilik, different in number
  • Bentuk inti: semicircular
  • Tipe kromatin: condensed
  • Ratio inti/sitoplasma:  low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: < 5% ; sumsum tulang: 5 – 20 %
5. Netrofil Segmen
  • Ukuran sel: 14 – 20 mm
  • Bentuk sel: oval atau bulat
  • Warna sitoplasma: pink
  • Granularitas: a few azurofilik and neutrofilik, different in number granulation
  • Bentuk inti: lobulated (normally less than 5 lobes)
  • Tipe kromatin: condensed
  • Ratio inti/sitoplasma: low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: 40 – 75 % ; sumsum tulang: 5 – 20 %
6. Eosinofil
  • Ukuran sel: 15 – 25 mm
  • Bentuk sel: oval atau bulat
  • Warna sitoplasma: pale, covered by granules
  • Granularitas: abundant eosinofilik (orange-red)
  • Bentuk inti: lobulated, semicircular
  • Tipe kromatin: condensed
  • Ratio inti/sitoplasma: low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: 2 – 4 %;  sumsum tulang: < 2 %

7. Monosit
  • Ukuran: 15 – 25 mm
  • Bentuk: bulat, oval atau tidak teratur
  • Warna sitoplasma: abu-abu biru
  • Granularitas: tidak ada atau sedikit granul azurofilik halus
  • Bentuk inti: biasanya tidak teratur
  • Tipe kromatin: kromatin kasar, berkelompok
  • Rasio inti/sitoplasma: sedang atau rendah
  • Nukleolus: tak terlihat
  • Distribusi: Darah: 4 – 8 % ; sumsum tulang: < 2 %
8. Basofil
  • Ukuran sel: 12 – 18 mm
  • Bentuk sel: round or oval
  • Warna sitoplasma: light-pink, mostly covered by granules and nucleus
  • Granularitas: veri dark, basofilik, granules of various size. The amount varies
  • Bentuk inti: oval shaped in not mature forms; lobular shaped in mature forms
  • Tipe kromatin: condensed, pale
  • Ratio inti/sitoplasma:  low or very low
  • Nukleolus: not visible
  • Keberadaan: darah: < 1 % ; sumsum tulang: < 1 %
Semoga bermanfaat..